Breaking

Monday, August 3, 2026

August 03, 2026

AMPLIFEST 2026 Bangun Jejaring Bisnis untuk Menciptakan Dampak Nyata

Jakarta, 24 Juli 2026 — Dalam persaingan usaha yang semakin dinamis, membangun jaringan bisnis tidak lagi cukup dengan sekadar bertukar kartu nama. Pelaku bisnis membutuhkan koneksi yang relevan, ruang untuk bertukar wawasan, serta kesempatan untuk menemukan mitra dan peluang nyata.

Sebagai komunitas bisnis, Business Network International (BNI) Chapter Amplify yang berbasis di Jakarta menghadirkan AMPLIFEST 2026 – Stronger Network, Bigger Impact, sebuah festival jejaring bisnis yang menggabungkan networking, edukasi, expo, dan engagement dalam satu rangkaian kegiatan.

Digelar pada hari Rabu, 29 Juli 2026 di Hotel Grand Mercure Kemayoran, Jakarta Pusat, AMPLIFEST 2026 menargetkan sekitar 500 peserta dan pengunjung dari kalangan pemilik bisnis, entrepreneur, profesional, pengambil keputusan, anggota komunitas bisnis, hingga masyarakat umum.

Mengusung semangat “Stronger Network, Bigger Impact”, kegiatan ini dirancang untuk mempertemukan berbagai pelaku dan komunitas lintas industri dalam ruang yang lebih terbuka dan interaktif.

Membangun Jejaring Bisnis untuk Menciptakan Dampak Nyata Bagi pelaku usaha, jaringan yang kuat bukan hanya ditentukan oleh banyaknya orang yang dikenal, tetapi juga oleh relevansi koneksi tersebut terhadap perkembangan bisnis.

Karena itu, AMPLIFEST 2026 dirancang sebagai ruang bagi para pelaku usaha untuk memperluas jejaring, bertukar wawasan, memperkenalkan bisnis, dan membuka peluang kolaborasi.

Semangat tersebut diwujudkan melalui kolaborasi lintas chapter yang mempertemukan BNI Amplify, BNI Dynasty, BNI Ignite, serta berbagai chapter BNI lainnya dari seluruh Indonesia.

Pertemuan ini memungkinkan anggota dan observer untuk saling mengenal, memahami potensi bisnis masing-masing, serta menjajaki peluang kerja sama lintas industri dan wilayah.

Peluang membangun koneksi juga diperkuat melalui workshop dalam format talkshow. Para pebisnis dari BNI Amplify akan membagikan pengalaman serta strategi dalam mengembangkan usaha, sehingga peserta tidak hanya memperoleh jaringan baru, tetapi juga wawasan praktis yang dapat diterapkan dalam bisnis mereka.

Interaksi antar peserta berlanjut di area expo yang menghadirkan berbagai booth usaha milik anggota BNI. Melalui area ini, peserta dapat mengenal beragam produk dan layanan sekaligus membuka percakapan langsung dengan calon pelanggan, mitra bisnis, maupun pengunjung dari berbagai latar belakang.

Idrus Halim, BNI Amplify President, menjelaskan, “AMPLIFEST 2026 lahir dari keyakinan bahwa jaringan yang kuat baru memiliki arti ketika menghasilkan kolaborasi dan dampak nyata. Kami ingin mempertemukan pemilik bisnis, profesional, dan masyarakat dalam satu ruang untuk saling mengenal, belajar, membuka peluang, dan bertumbuh bersama. Inilah semangat Stronger Network, Bigger Impact.”

Mempertemukan Bisnis, Edukasi, dan Masyarakat Berbeda dari format networking yang cenderung terbatas pada pertemuan antar pelaku usaha, AMPLIFEST 2026 membawa pengalaman jejaring ke dalam format festival. Selain Special Weekly Meeting, expo, dan talkshow, pengunjung juga dapat menikmati fashion show, games/quiz, serta door prize sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.

Format tersebut memungkinkan AMPLIFEST menjadi jembatan antara komunitas bisnis, brand, dan masyarakat umum. Bagi pemilik bisnis dan profesional, kegiatan ini menawarkan kesempatan untuk memperluas jaringan dan menemukan potensi kolaborasi maupun referral lintas industri. Bagi brand, AMPLIFEST menyediakan ruang untuk meningkatkan eksposur serta memperkenalkan produk dan layanan kepada calon pelanggan dan mitra. Sementara bagi masyarakat umum, acara ini membuka akses untuk mengenal beragam produk, layanan, wawasan, dan pelaku usaha dalam satu ekosistem.

Kehadiran berbagai pihak dari lintas industri juga menjadi bagian penting dari upaya membangun jejaring yang lebih inklusif. AMPLIFEST 2026 tidak menempatkan networking sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai awal dari hubungan yang berpotensi berkembang menjadi pertukaran pengetahuan, referral, kolaborasi, dan peluang pengembangan pasar.

“Kolaborasi para pelaku usaha anggota BNI Amplify membuat AMPLIFEST bukan hanya menjadi pertemuan komunitas, tetapi ruang yang mempertemukan berbagai industri, ide, dan kebutuhan pasar. Kami berharap setiap peserta pulang dengan koneksi yang relevan dan peluang yang dapat ditindaklanjuti,” ujar Roy Irawan, ketua panitia AMPLIFEST 2026.

Melalui AMPLIFEST 2026, BNI Amplify ingin menunjukkan bahwa membangun jaringan bisnis dapat dilakukan melalui pengalaman yang lebih terbuka, kolaboratif, dan relevan dengan kebutuhan pelaku usaha saat ini. Dengan mempertemukan komunitas bisnis, brand, profesional, dan masyarakat dalam satu ekosistem, kegiatan ini diharapkan dapat membuka ruang bagi koneksi yang bermakna dan kolaborasi lintas industri.


Artikel ini telah tayang di 
Sindo Jakarta.Com

Editor : Qurrota A'yun 


Friday, July 31, 2026

July 31, 2026

Perayaan Sanxingdui dan Jinsha Resmi Dibuka, Angkat Kejayaan Peradaban Perunggu Hulu Sungai Yangtze


Sindo Jakarta - Baru-baru ini, Museum Sanxingdui di Sichuan dan Museum Situs Jinsha di Chengdu mengadakan acara yang masing-masing memperingati 40 tahun penemuan lubang pengorbanan Sanxingdui dan peringatan 25 tahun penemuan arkeologi Jinsha. Berjarak sekitar 40 kilometer — satu di utara dan satu lagi di selatan — kedua situs tersebut bersama-sama menelusuri perkembangan peradaban Zaman Perunggu di wilayah hulu Sungai Yangtze.
— Empat Puluh Tahun Sejak Penemuan yang Menggemparkan Dunia
Pada tahun 1986, dua lubang persembahan ditemukan di Sanxingdui. Patung perunggu besar yang berdiri tegak, pohon suci perunggu, dan artefak lainnya telah memukau dunia dan mengubah pemahaman tentang peradaban Zaman Perunggu Tiongkok. Sejak tahun 2019, lebih dari 10.000 artefak telah digali dari enam lubang persembahan yang baru ditemukan.


Patung Perunggu Berdiri Tegak (Koleksi Museum Sanxingdui)

Pada simposium internasional yang diselenggarakan di Guanghan pada tanggal 24 hingga 26 Juli, para pakar membahas tata letak kota kuno Sanxingdu, sistem pengorbanannya, dan konservasi gading kuno. Sanxingdui kini menjadi situs utama untuk memahami interaksi budaya awal yang menghubungkan wilayah hulu Sungai Yangtze dengan Dataran Tengah dan Eurasia. Penemuannya menunjukkan bahwa lembah Sungai Yangtze, seperti halnya lembah Sungai Kuning, merupakan tempat lahirnya peradaban Tiongkok yang penting.

Dalam simposium tersebut, Rowan Kimon Flad, Profesor Arkeologi dari Universitas Harvard, menyoroti pentingnya Sanxingdui sebagai pusat ritual pada masanya. Ia mengatakan, "Tempat sentral ini menarik bagi banyak orang karena ritual dan praktik keagamaan yang rumit di situs tersebut." Menurutnya, kompleksitas praktik ritual tersebut menunjukkan peran Sanxingdui sebagai salah satu pusat peradaban yang memiliki pengaruh luas di kawasan Asia Timur pada masa lampau.

— Dua Puluh Lima Tahun Eksplorasi Berkesinambungan

Ditemukan pada tahun 2001, Jinsha dianggap sebagai pusat politik, ekonomi, dan budaya yang muncul setelah kemunduran budaya Sanxingdui. Artefak seperti Ornamen Emas Matahari dan Burung Abadi serta tabung cong giok menunjukkan kesinambungannya dengan Sanxingdui serta ciri khas lokalnya. Lebih dari 20 fragmen plastron penyu oracle periode Shang dan Zhou memberikan bukti penting tentang hubungan antara Shu kuno dan Dataran Tengah.
Pada simposium tanggal 22 Juli di Chengdu, para ahli melaporkan bahwa plastron Jinsha mempertahankan karakteristik lokal sekaligus menunjukkan pengaruh kuat dari sistem ritual Shang dan Zhou. Temuan ini mengkonfirmasi interaksi mendalam antara kedua wilayah tersebut lebih dari 3.000 tahun yang lalu.

Plastron Kura-kura Peramal Jinsha (Koleksi Museum Situs Jinsha)

Penelitian bersama di situs Sanxingdui dan Jinsha menantang pandangan tradisional yang berpusat pada Dataran Tengah dan mengakui lembah Sungai Yangtze dan Sungai Kuning sebagai tempat lahirnya peradaban Tiongkok. Bahan-bahan dari bahan cowrie, gading, dan batu giok yang digali mengungkapkan jaringan perdagangan awal yang luas dan membuktikan sejarah panjang “Jalur Sutra Selatan”. Kemajuan teknologi dalam konservasi artefak juga menyumbangkan keahlian yang dibagikan secara internasional.




Wednesday, July 22, 2026

July 22, 2026

Mengintip Surga Bawah Laut Banyuwangi yang Kaya Terumbu Karang


Banyuwangi, Juli 2026 — Selama ini, banyak perjalanan ke Banyuwangi dimulai dengan satu tujuan: mendaki Kawah Ijen untuk menyaksikan fenomena blue fire. Setelah itu, sebagian wisatawan melanjutkan perjalanan menuju Bali.

Padahal, kabupaten di ujung timur Pulau Jawa tersebut memiliki cukup banyak alasan untuk membuat wisatawan tinggal lebih lama. Dalam beberapa hari, perjalanan dapat berubah dari kawasan vulkanik menuju hutan trembesi, savana, perkebunan, desa adat, pantai, hingga dunia bawah laut di perairan antara Banyuwangi dan Bali Barat.

Peluang itu semakin terbuka seiring meningkatnya jumlah kunjungan. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mencatat wisatawan nusantara bertambah dari 3,28 juta orang pada 2024 menjadi 3,50 juta orang pada 2025. Pada periode yang sama, jumlah wisatawan mancanegara meningkat dari sekitar 122.900 menjadi hampir 167.000 orang.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa Banyuwangi semakin dikenal sebagai tujuan wisata. Tantangannya kini bukan hanya menarik orang datang, tetapi juga membuat mereka menjelajahi lebih banyak tempat dan memperpanjang lama tinggal.

Lanskap yang Berubah dalam Satu Perjalanan Kawah Ijen masih menjadi magnet utama Banyuwangi. Destinasi ini dikenal dengan blue fire, fenomena yang terjadi ketika gas belerang bersuhu tinggi keluar dari celah kawah lalu terbakar saat bersentuhan dengan oksigen.

Pendakian biasanya dimulai saat hari masih gelap. Setelah menyaksikan api biru, wisatawan menunggu cahaya pagi membuka pemandangan danau kawah berwarna hijau kebiruan serta dinding vulkanik di sekelilingnya. Kawasan Ijen juga menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark sejak 2023.

Beberapa jam perjalanan dari kawasan pegunungan, suasananya sudah berubah.
De Djawatan menghadirkan deretan pohon trembesi berukuran besar yang membentuk kanopi alami. Akar dan cabang yang menjuntai memberi kawasan ini suasana menyerupai hutan dalam film fantasi.

Di Taman Nasional Baluran, pemandangan berganti menjadi hamparan Savana Bekol dengan Gunung Baluran di kejauhan. Kawasan ini juga memiliki hutan evergreen, Pantai Bama, dan mangrove yang menjadi habitat berbagai satwa liar.

Pilihan lain terdapat di Perkebunan Kalibendo, yang dapat dijelajahi menggunakan kendaraan 4WD melewati kawasan kopi, cengkeh, dan karet. Menjelang sore, perjalanan dapat diteruskan ke perbukitan Kawah Wurung untuk menikmati matahari terbenam.

Dalam satu hari, lanskap Banyuwangi dapat berubah dari perkebunan yang sejuk menjadi perbukitan terbuka tempat cahaya sore jatuh di atas padang rumput.
Budaya Osing yang Tetap Hidup
Di antara perjalanan alam, Desa Adat Osing Kemiren menawarkan pengalaman berbeda. Wisatawan datang bukan hanya untuk melihat rumah tradisional, tetapi juga mengenal kehidupan masyarakat Osing yang masih mempertahankan budaya dan kebiasaannya.

Pengunjung dapat menikmati kopi yang diolah secara tradisional, mencicipi makanan lokal, melihat pertunjukan seni, atau berinteraksi langsung dengan warga. Pada waktu tertentu, desa ini menjadi lokasi berbagai agenda budaya, seperti Ngopi Sepuluh Ewu, Tumpeng Sewu, dan Barong Ider Bumi.

Kemiren menunjukkan bahwa budaya tidak harus hadir sebagai pertunjukan yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Tradisi tetap berlangsung di rumah, dapur, ruang pertemuan warga, dan berbagai kegiatan yang diwariskan lintas generasi.

Ketapang Membuka Jalur Wisata Bahari
Posisi Banyuwangi di tepi Selat Bali membuka peluang wisata bahari yang belum selalu masuk dalam rencana perjalanan wisatawan.

Dari kawasan Ketapang, perjalanan laut dapat diarahkan menuju Pulau Tabuhan, Pulau Menjangan, dan perairan Taman Nasional Bali Barat. Pilihan ini memungkinkan wisatawan menggabungkan perjalanan ke pegunungan, desa adat, dan bawah laut dalam satu kunjungan.

Pulau Tabuhan menawarkan pantai berpasir putih dan perairan jernih. Sementara itu, Pulau Menjangan dikenal dengan dinding karang yang turun dari perairan dangkal menuju laut lebih dalam.
Di antara terumbu karang dan kipas laut, penyelam dapat menjumpai gerombolan jackfish dan fusilier, batfish, penyu, belut moray, lionfish, serta nudibranch. Pada kondisi tertentu, barracuda, pari, dan hiu karang juga dapat terlihat, meski perjumpaan tetap bergantung pada musim dan keadaan laut.

Potensi tersebut mulai dimanfaatkan oleh pelaku wisata di kawasan Ketapang melalui paket perjalanan yang menghubungkan destinasi darat, budaya, dan aktivitas bahari. Salah satunya adalah Ketapang Indah Hotel, yang berada di tepi Selat Bali dan memiliki akses menuju sejumlah titik keberangkatan wisata laut.
“Banyak tamu awalnya datang ke Banyuwangi hanya untuk melihat Kawah Ijen. Setelah kami bantu menyusun itinerary, mereka baru menyadari masih banyak destinasi lain yang layak dijelajahi.

Setiap kawasan menawarkan pengalaman yang berbeda, sehingga Banyuwangi sebenarnya bisa dinikmati selama beberapa hari,” ujar Veronica, pemilik Ketapang Indah Hotel.

Menurut Veronica, wisatawan kini cenderung mencari perjalanan yang lebih mudah direncanakan dan tidak terputus-putus. Karena itu, keterhubungan antara destinasi, akomodasi, transportasi, dan operator wisata menjadi semakin penting.
Pendekatan tersebut tidak berarti hotel harus menjadi pusat perjalanan. Perannya lebih sebagai penghubung agar wisatawan dapat mengakses beberapa jenis pengalaman tanpa harus menyusun seluruh kebutuhan secara terpisah.

Ketapang Indah Hotel, misalnya, menawarkan perjalanan menuju destinasi darat seperti De Djawatan, Baluran, Kemiren, Kalibendo, dan Kawah Wurung, kemudian melanjutkannya dengan aktivitas bahari menuju Tabuhan dan Menjangan. Rangkaian tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana pelaku akomodasi dapat membantu wisatawan menjelajahi Banyuwangi dengan waktu yang lebih efisien.

Menginap, Menikmati Sunrise, dan Mengenal Cita Rasa Lokal
Pengalaman wisata Banyuwangi tidak berhenti ketika pengunjung kembali dari gunung, desa, atau laut. Akomodasi, suasana pesisir, dan makanan lokal ikut membentuk kesan perjalanan.

Berada tepat di tepi pantai, Ketapang Indah Hotel menawarkan pemandangan Selat Bali dan suasana taman tropis. Dari area pantai hotel, tamu dapat menyaksikan matahari terbit pada pagi hari, salah satu pengalaman yang lekat dengan julukan Banyuwangi sebagai The Sunrise of Java.

Kehadiran akomodasi yang bersih, rapi, dan terawat menjadi penting bagi wisatawan yang menjalani perjalanan padat. Pelayanan yang responsif juga membantu, terutama ketika tamu harus berangkat dini hari menuju Ijen atau menyiapkan aktivitas bahari.

Kuliner menjadi bagian lain yang memperkuat pengalaman daerah. Rujak soto mempertemukan bumbu kacang yang manis-pedas dengan kuah soto hangat. Pecel pithik memadukan ayam dengan kelapa parut berbumbu dan erat dengan tradisi masyarakat Osing. Sementara itu, ayam gobyos dikenal melalui rasa pedasnya.

Sejumlah menu lokal tersebut juga disajikan di Ketapang Indah Hotel, bersama ayam betutu yang mencerminkan kedekatan geografis dan pertukaran cita rasa antara Banyuwangi dan Bali.
Bagi wisatawan, makanan lokal memberi cara lain untuk mengenal suatu tempat. Perjalanan tidak hanya tersimpan melalui foto-foto destinasi, tetapi juga melalui rasa yang melekat setelah kunjungan berakhir.

Pada periode tertentu, tamu Ketapang Indah Hotel juga dapat mengikuti kegiatan pelepasan tukik di kawasan pantai hotel. Aktivitas tersebut memperkenalkan wisatawan pada upaya menjaga kehidupan dan ekosistem pesisir, sekaligus memberi dimensi edukasi pada pengalaman menginap.

Banyuwangi memang masih memiliki Kawah Ijen sebagai ikon terkuat. Namun, perkembangan pariwisatanya menunjukkan bahwa daerah ini menawarkan cerita yang lebih panjang daripada satu pendakian untuk menyaksikan blue fire.

Hutan, savana, perkebunan, budaya Osing, kuliner lokal, dan akses menuju dunia bawah laut memberi wisatawan lebih banyak alasan untuk tinggal. Ke depan, keberhasilan pariwisata Banyuwangi tidak hanya ditentukan oleh jumlah orang yang datang, tetapi juga oleh kemampuan destinasi dan pelaku industri menghubungkan berbagai pengalaman tersebut secara nyaman dan bertanggung jawab. 


Artikel ini telah tayang di 
Sindo Jakarta 

Editor : Qurrota A'yun 



Friday, July 17, 2026

July 17, 2026

Lebih dari Kawah Ijen, Banyuwangi Punya Segudang Pesona


Banyuwangi, Juli 2026 — Selama ini, banyak perjalanan ke Banyuwangi dimulai dengan satu tujuan: mendaki Kawah Ijen untuk menyaksikan fenomena blue fire. Setelah itu, sebagian wisatawan melanjutkan perjalanan menuju Bali.

Padahal, kabupaten di ujung timur Pulau Jawa tersebut memiliki cukup banyak alasan untuk membuat wisatawan tinggal lebih lama. Dalam beberapa hari, perjalanan dapat berubah dari kawasan vulkanik menuju hutan trembesi, savana, perkebunan, desa adat, pantai, hingga dunia bawah laut di perairan antara Banyuwangi dan Bali Barat.

Peluang itu semakin terbuka seiring meningkatnya jumlah kunjungan. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mencatat wisatawan nusantara bertambah dari 3,28 juta orang pada 2024 menjadi 3,50 juta orang pada 2025. Pada periode yang sama, jumlah wisatawan mancanegara meningkat dari sekitar 122.900 menjadi hampir 167.000 orang.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa Banyuwangi semakin dikenal sebagai tujuan wisata. Tantangannya kini bukan hanya menarik orang datang, tetapi juga membuat mereka menjelajahi lebih banyak tempat dan memperpanjang lama tinggal.

Lanskap yang Berubah dalam Satu Perjalanan Kawah Ijen masih menjadi magnet utama Banyuwangi. Destinasi ini dikenal dengan blue fire, fenomena yang terjadi ketika gas belerang bersuhu tinggi keluar dari celah kawah lalu terbakar saat bersentuhan dengan oksigen.

Pendakian biasanya dimulai saat hari masih gelap. Setelah menyaksikan api biru, wisatawan menunggu cahaya pagi membuka pemandangan danau kawah berwarna hijau kebiruan serta dinding vulkanik di sekelilingnya. Kawasan Ijen juga menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark sejak 2023.

Beberapa jam perjalanan dari kawasan pegunungan, suasananya sudah berubah.
De Djawatan menghadirkan deretan pohon trembesi berukuran besar yang membentuk kanopi alami. Akar dan cabang yang menjuntai memberi kawasan ini suasana menyerupai hutan dalam film fantasi.

Di Taman Nasional Baluran, pemandangan berganti menjadi hamparan Savana Bekol dengan Gunung Baluran di kejauhan. Kawasan ini juga memiliki hutan evergreen, Pantai Bama, dan mangrove yang menjadi habitat berbagai satwa liar.

Pilihan lain terdapat di Perkebunan Kalibendo, yang dapat dijelajahi menggunakan kendaraan 4WD melewati kawasan kopi, cengkeh, dan karet. Menjelang sore, perjalanan dapat diteruskan ke perbukitan Kawah Wurung untuk menikmati matahari terbenam.

Dalam satu hari, lanskap Banyuwangi dapat berubah dari perkebunan yang sejuk menjadi perbukitan terbuka tempat cahaya sore jatuh di atas padang rumput.
Budaya Osing yang Tetap Hidup
Di antara perjalanan alam, Desa Adat Osing Kemiren menawarkan pengalaman berbeda. Wisatawan datang bukan hanya untuk melihat rumah tradisional, tetapi juga mengenal kehidupan masyarakat Osing yang masih mempertahankan budaya dan kebiasaannya.

Pengunjung dapat menikmati kopi yang diolah secara tradisional, mencicipi makanan lokal, melihat pertunjukan seni, atau berinteraksi langsung dengan warga. Pada waktu tertentu, desa ini menjadi lokasi berbagai agenda budaya, seperti Ngopi Sepuluh Ewu, Tumpeng Sewu, dan Barong Ider Bumi.

Kemiren menunjukkan bahwa budaya tidak harus hadir sebagai pertunjukan yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Tradisi tetap berlangsung di rumah, dapur, ruang pertemuan warga, dan berbagai kegiatan yang diwariskan lintas generasi.

Ketapang Membuka Jalur Wisata Bahari
Posisi Banyuwangi di tepi Selat Bali membuka peluang wisata bahari yang belum selalu masuk dalam rencana perjalanan wisatawan.

Dari kawasan Ketapang, perjalanan laut dapat diarahkan menuju Pulau Tabuhan, Pulau Menjangan, dan perairan Taman Nasional Bali Barat. Pilihan ini memungkinkan wisatawan menggabungkan perjalanan ke pegunungan, desa adat, dan bawah laut dalam satu kunjungan.

Pulau Tabuhan menawarkan pantai berpasir putih dan perairan jernih. Sementara itu, Pulau Menjangan dikenal dengan dinding karang yang turun dari perairan dangkal menuju laut lebih dalam.
Di antara terumbu karang dan kipas laut, penyelam dapat menjumpai gerombolan jackfish dan fusilier, batfish, penyu, belut moray, lionfish, serta nudibranch. Pada kondisi tertentu, barracuda, pari, dan hiu karang juga dapat terlihat, meski perjumpaan tetap bergantung pada musim dan keadaan laut.

Potensi tersebut mulai dimanfaatkan oleh pelaku wisata di kawasan Ketapang melalui paket perjalanan yang menghubungkan destinasi darat, budaya, dan aktivitas bahari. Salah satunya adalah Ketapang Indah Hotel, yang berada di tepi Selat Bali dan memiliki akses menuju sejumlah titik keberangkatan wisata laut.
“Banyak tamu awalnya datang ke Banyuwangi hanya untuk melihat Kawah Ijen. Setelah kami bantu menyusun itinerary, mereka baru menyadari masih banyak destinasi lain yang layak dijelajahi.

Setiap kawasan menawarkan pengalaman yang berbeda, sehingga Banyuwangi sebenarnya bisa dinikmati selama beberapa hari,” ujar Veronica, pemilik Ketapang Indah Hotel.

Menurut Veronica, wisatawan kini cenderung mencari perjalanan yang lebih mudah direncanakan dan tidak terputus-putus. Karena itu, keterhubungan antara destinasi, akomodasi, transportasi, dan operator wisata menjadi semakin penting.
Pendekatan tersebut tidak berarti hotel harus menjadi pusat perjalanan. Perannya lebih sebagai penghubung agar wisatawan dapat mengakses beberapa jenis pengalaman tanpa harus menyusun seluruh kebutuhan secara terpisah.

Ketapang Indah Hotel, misalnya, menawarkan perjalanan menuju destinasi darat seperti De Djawatan, Baluran, Kemiren, Kalibendo, dan Kawah Wurung, kemudian melanjutkannya dengan aktivitas bahari menuju Tabuhan dan Menjangan. Rangkaian tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana pelaku akomodasi dapat membantu wisatawan menjelajahi Banyuwangi dengan waktu yang lebih efisien.

Menginap, Menikmati Sunrise, dan Mengenal Cita Rasa Lokal
Pengalaman wisata Banyuwangi tidak berhenti ketika pengunjung kembali dari gunung, desa, atau laut. Akomodasi, suasana pesisir, dan makanan lokal ikut membentuk kesan perjalanan.

Berada tepat di tepi pantai, Ketapang Indah Hotel menawarkan pemandangan Selat Bali dan suasana taman tropis. Dari area pantai hotel, tamu dapat menyaksikan matahari terbit pada pagi hari, salah satu pengalaman yang lekat dengan julukan Banyuwangi sebagai The Sunrise of Java.

Kehadiran akomodasi yang bersih, rapi, dan terawat menjadi penting bagi wisatawan yang menjalani perjalanan padat. Pelayanan yang responsif juga membantu, terutama ketika tamu harus berangkat dini hari menuju Ijen atau menyiapkan aktivitas bahari.

Kuliner menjadi bagian lain yang memperkuat pengalaman daerah. Rujak soto mempertemukan bumbu kacang yang manis-pedas dengan kuah soto hangat. Pecel pithik memadukan ayam dengan kelapa parut berbumbu dan erat dengan tradisi masyarakat Osing. Sementara itu, ayam gobyos dikenal melalui rasa pedasnya.

Sejumlah menu lokal tersebut juga disajikan di Ketapang Indah Hotel, bersama ayam betutu yang mencerminkan kedekatan geografis dan pertukaran cita rasa antara Banyuwangi dan Bali.
Bagi wisatawan, makanan lokal memberi cara lain untuk mengenal suatu tempat. Perjalanan tidak hanya tersimpan melalui foto-foto destinasi, tetapi juga melalui rasa yang melekat setelah kunjungan berakhir.

Pada periode tertentu, tamu Ketapang Indah Hotel juga dapat mengikuti kegiatan pelepasan tukik di kawasan pantai hotel. Aktivitas tersebut memperkenalkan wisatawan pada upaya menjaga kehidupan dan ekosistem pesisir, sekaligus memberi dimensi edukasi pada pengalaman menginap.

Banyuwangi memang masih memiliki Kawah Ijen sebagai ikon terkuat. Namun, perkembangan pariwisatanya menunjukkan bahwa daerah ini menawarkan cerita yang lebih panjang daripada satu pendakian untuk menyaksikan blue fire.

Hutan, savana, perkebunan, budaya Osing, kuliner lokal, dan akses menuju dunia bawah laut memberi wisatawan lebih banyak alasan untuk tinggal. Ke depan, keberhasilan pariwisata Banyuwangi tidak hanya ditentukan oleh jumlah orang yang datang, tetapi juga oleh kemampuan destinasi dan pelaku industri menghubungkan berbagai pengalaman tersebut secara nyaman dan bertanggung jawab. 


Artikel ini telah tayang di 
Sindo Jakarta 

Editor : Qurrota A'yun 


Tuesday, July 14, 2026

July 14, 2026

Pengesahan RUU Perampasan Aset Diharapkan Perkuat Pemberantasan Korupsi


Jakarta – Desakan agar Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset kembali menguat.
Regulasi tersebut dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat pemberantasan tindak pidana korupsi, khususnya dalam mengembalikan kerugian negara melalui penyitaan aset hasil kejahatan.

RUU Perampasan Aset diharapkan dapat memberikan dasar hukum yang lebih kuat bagi aparat penegak hukum untuk menyita aset yang diduga berasal dari tindak pidana, termasuk korupsi. Dengan adanya regulasi tersebut, proses pemulihan aset negara dinilai akan menjadi lebih efektif dan memberikan efek jera bagi para pelaku korupsi.

Sejumlah pihak menilai bahwa selama ini penindakan terhadap pelaku korupsi belum sepenuhnya mampu memiskinkan koruptor karena masih terdapat aset hasil kejahatan yang belum dapat dirampas secara optimal. Oleh sebab itu, pengesahan RUU Perampasan Aset dianggap sebagai kebutuhan mendesak dalam memperkuat sistem hukum nasional.

Selain mendukung penegakan hukum, keberadaan aturan ini juga diyakini mampu meningkatkan kepercayaan publik terhadap upaya pemerintah dalam memberantas korupsi. Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan aset sitaan pun diharapkan menjadi perhatian utama dalam implementasinya.

Meski demikian, pembahasan RUU Perampasan Aset masih memerlukan kesepakatan antara pemerintah dan DPR agar substansi aturan tetap menjamin kepastian hukum, perlindungan hak asasi manusia, serta tidak menimbulkan penyalahgunaan kewenangan.

Publik kini menantikan langkah konkret DPR untuk segera menuntaskan pembahasan dan mengesahkan RUU Perampasan Aset sebagai salah satu instrumen penting dalam memperkuat pemberantasan korupsi dan memulihkan kerugian negara.


Artikel ini telah tayang di
Sindo Jakarta.Com

Editor : Qurrota A'yun 


Thursday, July 2, 2026

July 02, 2026

Musim Masuk Sekolah Tiba, Orang Tua Lebih Selektif Memilih Sepatu yang Nyaman dan Awet


Jakarta – Memasuki periode tahun ajaran baru, permintaan perlengkapan sekolah, khususnya sepatu, kembali mengalami peningkatan. Berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, kini banyak orang tua tidak lagi hanya mempertimbangkan harga saat memilih sepatu sekolah, tetapi juga kenyamanan, daya tahan, serta kualitas material yang mampu menunjang aktivitas anak sepanjang hari.

Momen kembali ke sekolah menjadi salah satu periode belanja terbesar bagi keluarga Indonesia. Sepatu menjadi kebutuhan utama karena digunakan hampir setiap hari, mulai dari kegiatan belajar di kelas hingga aktivitas luar ruangan. Karena itu, orang tua semakin selektif dalam memilih produk yang tidak hanya nyaman dipakai, tetapi juga awet sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama.

Brand Manager Carvil, Patricia Andika, melihat adanya perubahan perilaku konsumen tersebut.

"Orang tua saat ini semakin cermat dalam memilih sepatu sekolah. Mereka tidak hanya mencari desain yang menarik atau harga yang terjangkau, tetapi juga memastikan sepatu memiliki kenyamanan yang baik dan daya tahan yang mampu mengikuti aktivitas anak yang sangat aktif setiap hari," ujar Patricia.

Menurutnya, kenyamanan menjadi faktor penting karena anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah.

Material yang ringan, sirkulasi udara yang baik, serta sol yang nyaman menjadi beberapa aspek yang kini semakin diperhatikan oleh para orang tua.

Selain itu, daya tahan juga menjadi pertimbangan utama. Sepatu yang berkualitas dinilai lebih ekonomis dalam jangka panjang karena tidak perlu sering diganti akibat kerusakan selama masa pemakaian.

Melihat kebutuhan tersebut, Carvil terus menghadirkan koleksi sepatu sekolah yang dirancang untuk mendukung aktivitas anak dengan mengutamakan kualitas material, kenyamanan saat digunakan, serta desain yang tetap mengikuti kebutuhan anak sekolah.

"Kami memahami bahwa sepatu sekolah bukan sekadar pelengkap seragam, tetapi menjadi bagian penting yang mendukung aktivitas dan kenyamanan anak setiap hari. Karena itu, kami terus menghadirkan produk yang menggabungkan kualitas, kenyamanan, dan ketahanan agar dapat menjadi pilihan keluarga Indonesia," tambah Patricia.

Dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang tahun ajaran baru, Carvil optimistis tren permintaan sepatu sekolah akan terus tumbuh seiring meningkatnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya memilih produk yang memberikan nilai lebih bagi kenyamanan dan mobilitas anak.


Artikel ini telah tayang di 
Sindo Jakarta 


Monday, June 29, 2026

June 29, 2026

100 Anak Sookses School Grogol Ikuti Edukasi Lingkungan Bersama Pruf Ritz


Jakarta, Juni 2026 – Sebanyak sekitar 100 siswa Sookses School di Grogol, Jakarta Barat, mengikuti kegiatan edukasi lingkungan dan pengurangan food waste yang diselenggarakan melalui kolaborasi antara Pruf Ritz Communications Hub dan Surplus Community. Kegiatan yang bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriyah tersebut menghadirkan pembelajaran interaktif mengenai pemilahan sampah, kepedulian lingkungan, serta pentingnya mengurangi pemborosan pangan sejak usia dini.

Acara diawali dengan sesi edukasi mengenai dampak limbah makanan terhadap lingkungan yang dibawakan oleh tim Surplus Community, dilanjutkan dengan pembelajaran mengenai cara memilah sampah organik dan anorganik di rumah. Untuk membuat proses belajar lebih menyenangkan, para siswa diajak mengikuti berbagai permainan edukatif dan aktivitas kelompok lewat gambar berwarna yang mendorong mereka berpikir kritis sekaligus berani menyampaikan pendapat. 

Founder Pruf Ritz, Alfawzia Nurrahmi, menjelaskan bahwa pendidikan sejati tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik dan keterampilan kerja, tetapi juga pembentukan karakter dan kepedulian terhadap sesama. “Pendidikan juga tentang membangun empati, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa kita hidup berdampingan dengan sesama manusia, hewan, dan lingkungan. Karena itulah kami memilih menghadirkan kegiatan yang dapat menanamkan kepekaan tersebut sejak dini,” ujarnya.

Kegiatan ini juga menjadi momen spesial bagi Alfawzia yang memilih merayakan pertambahan usianya bersama para siswa Sookses School dan juga tim Pruf Ritz di Jakarta dan Surplus Community. Setelah sesi edukasi dan permainan selesai, seluruh peserta menikmati makan siang bersama berupa nasi kuning, kue ulang tahun, aneka jajanan tradisional Indonesia, serta jus buah dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. “Senang ikutan games memilah sampah dengan kakak-kakak volunteer yang baik dan cantik,” ujar Kila, 7 tahun, salah satu siswi Sookses School. “Sering-sering main ke sini, ya, Kak.”

Founder Surplus Indonesia, Muhammad Agung Saputra, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas komunitas seperti ini memiliki peran penting dalam membangun kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda sejak dini.

"Kegiatan yang digagas oleh Pruf Ritz menjadi pengalaman yang hangat dan penuh makna. Sebagai komunitas yang berfokus pada edukasi pangan berlebih, Surplus Community turut hadir untuk mendampingi adik-adik belajar melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan, termasuk dengan kehadiran Gerobak JuLing (Juicible Keliling) di sekolah-sekolah. Kami berharap dapat terus konsisten menghadirkan program edukatif yang bermanfaat dan menjangkau lebih banyak anak," tambah Zuleika Almira, Brand Store Manager Surplus Indonesia.

Sementara itu, Pendiri Sookses School yang juga berprofesi sebagai Praktisi Digital Marketing, Dewa Klasik Alexander, mengungkapkan rasa syukurnya: “Terima kasih atas kebaikan hati dan kunjungannya di Sookses School. Percayalah, apa yang telah dilakukan oleh teman-teman Pruf Ritz dan Surplus pada hari ini akan membekas di kenangan dan hati siswa-siswi kami. Akan ada dari mereka yang mengingat nilai-nilai kebaikan yang sudah diajarkan, membawanya dalam keseharian hingga kelak dewasa, bahkan menyampaikannya kepada orang lain. Nilai kebaikan kalian akan terus tumbuh."

Sookses School sendiri merupakan sekolah nirlaba yang didirikan oleh Dewa untuk menyediakan akses pendidikan yang terjangkau bagi anak-anak duafa dan yatim di Jakarta Barat melalui pendekatan learning through play. Setelah sempat menghadapi berbagai tantangan, sekolah ini kembali aktif sejak tahun 2021 dan terus melayani anak-anak yang membutuhkan akses pendidikan yang lebih baik.

Bagi Pruf Ritz, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam mendukung pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, serta penguatan nilai-nilai sosial di masyarakat. Selain bergerak di bidang layanan bahasa dan komunikasi profesional, Pruf Ritz secara aktif mengembangkan program pelatihan, magang, pengembangan keterampilan kerja, kolaborasi kampus-industri, serta berbagai kegiatan sosial yang melibatkan mahasiswa, profesional, hingga komunitas bisnis terkemuka di Indonesia hingga mancanegara.

Melalui kolaborasi bersama Sookses School dan Surplus Indonesia, Pruf Ritz berharap semakin banyak pihak dari kalangan bisnis, pendidikan, komunitas, maupun masyarakat umum yang terlibat dalam menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan melalui pendidikan, kepedulian lingkungan, dan aksi nyata yang dimulai dari langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Tentang Pruf Ritz Communications Hub
Dirintis pada 2011 dan berdiri secara resmi pada 2017, Pruf Ritz Communications Hub merupakan perusahaan penyedia layanan bahasa, komunikasi, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia dengan perwakilan di Jakarta dan Surabaya. Dengan jaringan mitra nasional dan internasional, Pruf Ritz melayani kebutuhan penerjemahan tersumpah, penerjemahan profesional, interpreting, proofreading, copywriting, subtitling, pelatihan bahasa, dan berbagai solusi komunikasi lintas budaya dalam lebih dari 30 pasang bahasa yang mendukung komunikasi dan kolaborasi lintas budaya bagi individu, institusi, organisasi, dan perusahaan.


Artikel ini telah tayang di
Sindo Jakarta 

Editor : Qurrota A'yun